Month: February 2019

Manfaat Sistem Parkir Dengan Menggunakan Tiket (Karcis Barcode)

Semakin maraknya pusat perbelanjaan, perkantoran, pemukiman horisontal seperti apartemen membutuhkan sistem pengelolaan parkir yang lebih aman dan cepat, apalagi bila sudah menyangkut tempat konvensi yang secara insidensial sering terjadi antrian mengingat waktu interval range check in dan check outnya hampir bersamaan waktunya.

Bila saja metode parkir yang digunakan masih tradisional alias konvensional kita bisa banyangkan betapa susahnya melayani dan mencover semua kendaraan keluar dan masuk. Potensi pendapatan dari sektor parkir sendiri cukup bagus, baik bagi pengelola maupun bagi pemerintah setempat dalam hal ini DISPENDA di daerah masing masing.

Banyak sekali metode otomatisasi parkir yang ada, mulai dari sistem karcis menggunakan barcode atau tidak (semi otomatisasi) atau pula menggunakan kartu PVC dan kesemuanya saat ini rata rata sudah di integrasikan dengan menggunakan kamera CCTV yang bisa mengcaptur kendaraan yang datanya disimpan dalam database.

Metode barcode akan mempermudah kros cek saat check out dari gateway keluar karena disertakan dengan barcode reader yang mampu membaca dengan cepat karcis dengan catatan karcis tidak dilipat lipat atau acak acak rusak yang membuat pembacaan dengan barcode scanner jadi susah.

Kebanyakan sistem ini membutuhkan beberapa perangkat bantu diantaranya Receipt Printer Thermal (karena butuh kualitas cetak barcode yang bagus) lalu barcode scanner rekomendasinya dengan menggunakan laser scanner, dan juga perangkap capture CCTV yang bisa zoom bagus. juga tentunya perangkat PC dan software sistem parkir.

Sumber: indoprinter.wordpress.com

Untuk kamu yang memiliki kebutuhan Barcode System Automation di bidang Sistem Retail Informasi (RIS), Identifikasi Otomatis dan Data Capture (AIDC), Komputasi mobile dan solusi RFID, silahkan kunjungi parter kami yang berada di Kota Medan.

Website link : https://www.barcodemedan.com/

Cara Kerja Printer Barcode

Pada artikel kali ini kami akan menjelaskan tentang cara kerja printer barcode, mari kita simak artikelnya. Barcode printer adalah jenis printer dengan kategori berdasarkan kegunaannya, yaitu untuk mencetak label barcode.

Barcode printer pada umumnya adalah printer dengan teknologi thermal atau pemanasan. Barcode printer mencetak di kertas atau bahan lain dengan memanaskan bahan atau kertas tadi sehingga menjadi gosong (baca: terbakar). Apabila anda pernah menggunakan mesin ATM bank, maka sistem pencetakan label barcode juga sama seperti itu. Tulisan yang tercetak pada kertas ATM bank terbentuk dari pemanasan. (Catatan: Ada beberapa ATM kuno yang belum menggunakan teknologi thermal. Anda bisa mengenalinya demikian: pada saat mencetak struk, jika ATM mengeluarkan suara berderik kasar, maka mesin ATM tersebut belum menggunakan teknologi thermal). Jika anda ingin mengetahui cara kerja pemanasan tadi, cobalah meletakkan api dari korek api kira-kita 5cm dibawah kertas struk ATM. Maka kertas tadi akan cepat menjadi hitam. (Tentunya kertas biasa pun lama-lama akan menjadi hitam, namun reaksinya tidak secepat kertas thermal).

Printer barcode DIRECT THERMAL

adalah printer dengan teknologi DIRECT THERMAL. Yaitu kertas atau bahan dipanaskan langsung oleh thermal head (bagian pemanas) dari printer. Kelemahan jenis direct thermal ini adalah bahwa hasil cetak mudah pudar atau rusak, karena terpengaruh suhu.

Printer Barcode THERMAL TRANSFER

Cara kerja kedua disebut dengan THERMAL TRANSFER. Teknologi ini juga digunakan oleh alat cetak atau printer foto profesional. Intinya pada printer ini selain menggunakan kertas, juga menggunakan media yang disebut RIBBON. Ribbon inilah yang dipanaskan, sehingga warna dari ribbon akan lengket (transfer) ke kertas atau media. Hasil cetaknya jelas sudah tidak terpengaruh suhu, karena prinsipnya adalah pelengketan dengan panas.

Kalau anda masih bingung cara kerjanya, ini sangat mirip dengan stiker tempel yang dulu pernah terkenal dengan merek RUGOS. Bedanya kalau pada rugos, pemindahan ribbon (tulisan di Rugos) ke kertas adalah dengan penggosokan; kalau pada thermal transfer adalah dengan pemanasan.

Yang membedakan printer barcode dengan printer biasa juga adalah jenis packing kertas. Kalau printer pada umumnya menggunakan sistem lembaran (flat paper), printer barcode memakai sistem roll paper. Mungkin anda bertanya mengapa dengan roll paper? Misalnya jika anda hanya ingin mencetak 5 buah label barcode dengan ukuran stiker 2cm x 3cm, bayangkan jika anda memakai sistem paper A4. Akan banyak sekali kertas yang dibuang.

Saat ini sudah ada software FastBarcode yang bisa mencetak pada baris dan kolom tertentu pada kertas flat paper, sehingga tidak akan ada kertas yang terbuang. Saat ini harga printer barcode sudah semakin murah. Dan ada beberapa merek dengan harga terjangkau dan kami rekomendasikan seperti produk dari Taiwan SemiConductor atau TSC dan Postek.

Jika barcode printer adalah pilihan anda, maka anda harus mengetahui satu hal yang disebut dengan media type sensor. Sebelumnya anda harus tahu dulu bentuk dari barcode paper roll. Bayangkan sebuah gulungan kertas yang terdiri dari stiker label. Label ini nantinya akan dikelupas untuk ditempelkan pada produk anda. Antara label pada baris pertama dengan baris berikutnya dipisahkan oleh sebuah jarak atau disebut GAP. Setiap kali mencetak, printer barcode juga akan menembakan sinar dari arah atas ke arah bawah, yaitu melalui kertas . Jika yang ditembak adalah pada bagian kertas, maka sinar tidak akan menembus sensor bagian bawah. Namun jika yang ditembak adalah bagian GAP yang berupa kertas pelapis yang tipis, maka sensor bagian bawah akan menangkap sinar tersebut dan memberitahukan pada printer, bahwa setelah ini adalah proses pencetakan label berikutnya. Sistem ini disebut dengan penyinaran transmisi atau lazim disebut sensor TRANSMITIVE.

Sensor jenis kedua yang lazim digunakan disebut dengan REFLECTIVE. Kalau pada transmitive, memerlukan kertas dengan GAP, pada reflective tidak memerlukan GAP. Sebagai gantinya bagian belakang kertas Roll ditandai dengan blok warna hitam (disebut BLACK MARK). Kali ini cahaya dari arah bawah ditembakkan ke bagian belakang kertas. Jika mengenai warna hitam, cahaya akan terserap dan sensor akan mengenali bahwa itu tanda untuk mencetak pada baris atau label berikutnya.

Memang tampaknya cukup rumit. Namun setelah anda membeli sebuah barcode printer dan memperaktekannya, akan menjadi dimengerti dan jelas semuanya. Demikian artikel kali ini Cara Kerja Printer Barcode semoga bermanfaat untuk anda.

 

Sumber: kiosbarcode.com

 

Untuk kamu yang memiliki kebutuhan Barcode System Automation di bidang Sistem Retail Informasi (RIS), Identifikasi Otomatis dan Data Capture (AIDC), Komputasi mobile dan solusi RFID, silahkan kunjungi parter kami yang berada di Kota Medan.

Website link : https://www.barcodemedan.com/

Sejarah Singkat Mengenai Barcode

Pada artikel kali ini kami ingin membahas sedikit tentang sejarah singkat mengenai barcode. Barcode atau kode batang adalah suatu kumpulan data optik yang dibaca mesin. Sebenarnya, kode batang ini mengumpulkan data dalam lebar (garis) dan spasi garis paralel dan dapat disebut sebagai kode batang atau simbologi linear atau 1D (1 dimensi). Tetapi juga memiliki bentuk persegi, titik, heksagon dan bentuk geometri lainnya di dalam gambar yang disebut kode matriks atau simbologi 2D (2 dimensi). Selain tak ada garis, sistem 2D sering juga disebut sebagai kode batang.

Pada tahun 1932, Wallace Flint membuat sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail. Awalnya, teknologi kode batang dikendalikan oleh perusahaan retail, lalu diikuti oleh perusahaan industri. Lalu pada tahun 1948, pemilik toko makanan lokal meminta Drexel Institute of Technology di Philadelphia, untuk membuat sistem pembacaan informasi produk selama checkout secara otomatis.

Kemudian Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, lulusan Drexel patent application, bergabung untuk mencari solusi. Woodland mengusulkan tinta yang sensitif terhadap sinar ultraviolet. Prototipe ditolak karena tidak stabil dan mahal. Tangal 20 Oktober 1949 Woodland dan Silver berhasil membuat prototipe yang lebih baik. Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1952, mereka mendapat hak paten dari hasil penelitian mereka. 1966: Pertama kalinya kode batang dipakai secara komersial adalah pada tahun 1970 ketika Logicon Inc. membuat Universal Grocery Products Identification Standard (UGPIC).

Perusahaan pertama yang memproduksi perlengkapan kode batang untuk perdagangan retail adalah Monach Marking. Pemakaian di dunia industri pertama kali oleh Plessey Telecommunications. Pada tahun 1972, Toko Kroger di Cincinnati mulai menggunakan bull’s-eye code. Selain itu, sebuah komite dibentuk dalam grocery industry untuk memilih kode standar yang akan digunakan di industry.

Penggunaan awal kode batang adalah untuk mengotomatiskan sistem pemeriksaan di swalayan, tugas dimana mereka semua menjadi universal saat ini. Penggunaannya telah menyebar ke berbagai kegunaan lain juga, tugas yang secara umum disebut sebagai Auto ID Data Capture (AIDC). Sistem terbaru, seperti RFID, berusaha sejajar di pasaran AIDC, tetapi kesederhanaan, universalitas dan harga rendah kode batang telah membatasi peran sistem-sistem baru ini. Seharga US$0.005 untuk membuat kode barang bila dibandingkan dengan RFID yang masih seharga sekitar US$0.07 hingga US$0.30 per tag.

Kode batang dapat dibaca oleh pemindai optik yang disebut pembaca kode batang atau dipindai dari sebuah gambar oleh perangkat lunak khusus. Di Jepang, kebanyakan telepon genggam memiliki perangkat lunak pemindai untuk kode 2D, dan perangkat sejenis tersedia melalui platform smartphone.

Sekian untuk artikel kali ini mengenai sejarah singkat barcode mudah-mudahan dapat membantu. terima kasih dan semoga bermanfaat.

 

Sumber: www.sewabarcode.com

Untuk kamu yang memiliki kebutuhan Barcode System Automation di bidang Sistem Retail Informasi (RIS), Identifikasi Otomatis dan Data Capture (AIDC), Komputasi mobile dan solusi RFID, silahkan kunjungi parter kami yang berada di Kota Medan.

Website link : https://www.barcodemedan.com/

Scroll to top