Category: Ekonomi

RESPON PASAR ATAS CAPRES-CAWAPRES 2019

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan respon pasar domestik terhadap kepastian munculnya nama-nama calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019 hanya bersifat temporer atau sementara.

“Respon terhadap variabel makro kan biasanya nilai tukar dan indeks harga saham yang jadi ukuran. Itu juga belum jadi respon yang permanen, bisa juga temporer,” ujar Enny di Jakarta, Jumat (10/8).

Setelah muncul kepastian nama calon presiden beserta wakilnya, sentimen berkaitan dengan politik di pasar keuangan domestik dinilai cenderung berkurang sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat. Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank juga menguat enam poin menjadi Rp14.426 per dolar AS.

Menurut Enny, yang paling utama diharapkan pasar ada tiga hal. Pertama, pemilihan umum di Indonesia berlangsung lancar dan aman. Kedua, tidak ada gejolak terhadap stabilitas politik. “Ketiga, ada konsistensi kebijakan. Jadi jadi kalau tiga hal itu tidak berisiko secara kalkulasi pelaku pasar, ya pasar tidak akan merespon negatif,” ujar Enny.

Kendati demikian, lanjut Enny, yang jadi persoalan adalah saat ini respon pasar tidak hanya ditentukan oleh urusan politik saja namun juga dinamika lingkungan eksternal seperti kebijakan-kebijakan pemerintahan AS dibawah pimpinan Presiden AS Donald Trump yang cukup kontroversial dan juga isu perang dagang antara AS dan China serta beberapa negara lainnya.

“Selain itu, kemampuan fundamental ekonomi kita menahan gejolak pelemahan Rupiah dan macam-macam. Jadi respon pasar tidak “single variable”,” kata Enny, seperti dikutip dari Antara.

https://elshinta.com/news/152719/1970/01/01/respons-pasar-atas-capres-cawapres-bersifat-temporer

Bidik Data Perusahaan Multinasional, Indonesia Negosiasi dengan AS

Indonesia tengah bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk bisa melakukan kerja sama pertukaran Country by Country Report (CbCR) guna mencegah penggerusan pajak dan pengalihan laba usaha terutama oleh perusahaan multinasional. CbCR adalah salah satu dokumen transfer pricing yang disampaikan wajib pajak perusahaan induk kepada otoritas pajak negaranya dan ditujukan untuk dipertukarkan dengan otoritas pajak di negara lain.

Kepala Subdirektorat Pertukaran Informasi Perpajakan Internasional Direktorat Jenderal Pajak Leli Listianawati mengatakan Indonesia telah melakukan tiga kali perundingan dengan AS, namun masih ada satu isu yang membuat belum ditandatanganinya kesepakatan pertukaran CbCR dengan Negeri Paman Sam tersebut. Isu yang dimaksud yakni terkait Undang-Undang 24 Tahun 2009 tentang bahasa.

“Apabila (Indonesia) membuat suatu nota kesepahaman (internasional) harus dalam dua bahasa. Amerika masih menego mengenai waktu karena mereka harus me-review (nota kesepahaman) bahasa Indonesia melalui legal mereka,” kata Leli dalam diskusi dengan wartawan, Kamis (19/4).

Indonesia membidik pertukaran CbCR dengan semua negara kecuali Israel yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Adapun lebih dari 100 negara telah berkomitmen melakukan pertukaran CbCR baik melalui kesepakatan multilateral (Multilateral Competent Authority Agreement/MCAA) maupun bilateral (Billateral Competent Authority Agreement/BCAA).

Menurut Leli, banyaknya negara yang dibidik lantaran Indonesia ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai kegiatan perusahaan multinasional di berbagai negara yang selama ini sangat sulit didapatkan.

Per April 2018, sudah terdapat 52 yurisdiksi yang MCAA-nya telah teraktivasi dengan Indonesia dan tiga yurisdiksi yang MCAA-nya akan diaktivasi pada Mei 2018. Selain itu, seperti disinggung di awal, ada satu yurisdiksi yaitu AS yang masih dalam tahap negosiasi BCAA dengan Indonesia.

Adapun CbCR memuat informasi mengenai alokasi penghasilan, pajak yang dibayar, dan aktivitas usaha per negara atau yurisdiksi dari seluruh anggota grup usaha baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu, memuat juga daftar anggota grup usaha dan kegiatan utama per negara atau yurisdiksi, termasuk yang berstatus Bentuk Usaha Tetap (BUT).

Perusahaan induk atau Ultimate Parent Entity yang dituju untuk menyerahkan CbCR yaitu yang peredaran bruto konsolidasinya lebih dari Rp 11 triliun atau setara 750 juta euro.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Hestu Yoga Saksama mengatakan data CbCR dari berbagai negara utamanya bakal digunakan untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak. Namun, ia tidak menutup kemungkinan data bakal digunakan untuk memecahkan kasus-kasus lama penghindaran pajak. “Lebih sifatnya preventif walaupun untuk dipakai represif juga bisa,” kata dia.

Abaikan Ketegangan Geopolitik, Bursa Asia Menguat Tipis

Bergerak menguat pada pembukaan perdagangan di Senin pagi ini. Investor sedikit mengabaikan ketegangan geopolitik usai serangan udara yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) ke Suriah pada pekan lalu.

Mengutip CNBC, Senin (16/4/2018), Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,11 persen. Indeks Topix juga menguat tipis 0,05 persen. Sektor keuangan melemah secara keseluruhan sehingga menahan penguatan bursa saham di Jepang. Sementara, saham-saham di sektor manufaktur mampu mengguat 0,75 persen.

Di Korea Selatan, Indeks Kospi naik tipis 0,17 persen didorong oleh saham-saham di sektor teknologi.

Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,14 persen. Saham-saham di sektor industri dasar naik 1,04 persen di pagi ini.

Di AS, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu indeks saham Dow Jones merosot 122,91 poin atau 0,5 persen ke posisi 24.360,14.

Indeks saham S&P 500 tergelincir 7,69 poin atau 0,29 persen ke posisi 2.656,3 dan indeks saham Nasdaq susut 33,60 poin atau 0,47 persen ke posisi 7.106,65.

Pelaku pasar di Asia sepertinya mengabaikan perkembangan terkahir di Suriah. Pada Sabtu lalu, AS, Prancis, dan Inggris melancarkan serangan militer ke Suriah. Menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, tindakan ini dilakukan untuk merespons serangan senjata kimia di negara tersebut.

Serangan militer itu disampaikan secara langsung oleh Trump lewat siaran televisi. “Sebuah operasi gabungan bersama angkatan bersenjata Prancis dan Inggris tengah berlangsung saat ini,” ujar Presiden Amerika Serikat tersebut.

Dikutip dari BBC, Trump telah memberi persetujuan atas serangan militer di lokasi penyerangan senjata kimia di Suriah. Serangan ini dilancarkan sebagai balasan Amerika Serikat terhadap serangan senjata kimia di Douma pekan lalu, yang menurutnya dilakukan oleh pemerintah Suriah.

 

Sumber: liputan6.com

Ekonomi AS Tumbuh Kuat, Suku Bunga Acuan The Fed “On the Track” untuk Naik

Bank sentral AS Federal Reserve menyatakan, ekonomi AS tumbuh dalam laju yang kuat. Inflasi pun bergerak naik, mendukung langkah The Fed meneruskan kenaikan suku bunga acuan.
Hal ini diungkapkan The Fed dalam minutes pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Minutes adalah notulensi pertemuan FOMC yang diselenggarakan tiga pekan silam.

Dikutip dari CNBC, Jumat (13/4/2018), kesimpulan pertemuan FOMC menunjukkan bahwa semua peserta mengekspektasikan ekonomi akan menguat dan inflasi akan naik dalam beberapa bulan ke depan. Sentimen umumnya adalah diyakini The Fed akan melanjutkan laju kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR).
“Para peserta secara umum melihat berita terkait konsumsi dan pasar tenaga kerja dalam beberapa kuartal terakhir konsisten dengan pertumbuhan yang di atas tren dan kelanjutan penguatan di pasar tenaga kerja,” tulis The Fed dalam laporannya.
FOMC pun menyetujui kenaikan FFR sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 1,5-1,75 persen. Ada pula beberapa anggota yang menyatakan akan lebih baik jika The Fed menunggu hingga ada bukti kuat bahwa inflasi bergerak menuju target 2 persen.

“Dengan outlook kebijakan moneter jangka menengah, semua anggota melihat berlanjutnya arah kebijakan moneter,” papar The Fed.

Hampir semua anggota setuju bahwa adalah hal yang tepat untuk melanjutkan pendekatan kenaikan FFR secara gradual. Pasar pun mengekspektasikan kenaikan FFR akan terjadi lagi pada Juni dan September 2018 mendatang.
Meskipun demikian, menurut data The Fed, kemungkinan kenaikan FFR untuk keempat kalinya mencapai 1 banding 4.

4 Langkah sederhana sukses berbisnis kurang dari sebulan

Berdasarkan survei dirilis dari perusahaan jasa keuangan Bankrate.com, lebih dari 44 juta orang dewasa di Amerika memiliki kesibukan untuk berbisnis. Mulai dari pekerjaan paruh waktu dengan perusahaan lain hingga hobi yang bisa menghasilkan uang.

Dilansir CNBC, Penulis dan Pembicara Chris Guillebeau membagikan tips untuk mencari tahu bagaimana mengubah keterampilan dan minat masyarakat menjadi sebuah bisnis.

“Ada perdebatan tentang apa maksud kesibukan. Saya mencoba mendorong orang untuk tidak memikirkan ekonomi pertunjukan seperti mengemudi untuk Uber atau bekerja paruh waktu karena mereka perlu,” kata Guillebeau.

Dalam bukunya, Side Hustle: From Idea to Income in 27 Days, dia membeberkan cara untuk mengidentifikasi kemampuan berbisnis seseorang dan mengubahnya menjadi bisnis yang menguntungkan dalam empat langkah.

1. Hasilkan ide berdasarkan keterampilan

Guillebeau mengatakan beberapa ide terbaik untuk memiliki kesibukan adalah fokus pada keterampilan yang sudah Anda miliki.

“Saya pikir banyak orang berpikir mereka harus keluar dan mendapatkan keterampilan baru. Beberapa orang mengatakan saya ingin membuat aplikasi dan saya berkata, ‘Apakah Anda seorang pengembang?’ dan mereka akan mengatakan ‘Tidak’ Jadi, saya mencoba membantu orang-orang memahami bahwa keterampilan yang mereka miliki sudah cukup.”

Setelah menemukan keterampilan, Anda kemudian dapat mulai membangun gudang gagasan untuk hal-hal yang ingin Anda lakukan. Di minggu pertama, memiliki tantangan dan peluang, sehingga Anda juga harus mempertimbangkan hal itu agar tidak salah langkah.

2. Memilih sasaran bisnis

Di minggu kedua, Anda harus memilih ide-ide terbaik yang akan Anda lakukan. Setelah itu, Anda harus memilih sasaran bisnis Anda. Anda harus memikirkan siapa sasaran Anda dengan mempertimbangkan produk atau jasa apa yang bisa Anda tawarkan kepada mereka.

Jika sudah memilih jenis bisnis dan sasaran, maka buat sebuah promosi agar mereka tertarik membeli produk atau menggunakan jasa Anda. Tak hanya itu, Anda juga harus memberikan harga yang sesuai dengan keterampilan Anda.

3. Bersiap untuk menerapkan ide

Di minggu ketiga, Anda harus memperkuat rincian dari bisnis yang akan Anda lakukan. Jika Anda menjual suatu produk, pertama-tama cari tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk membuat produk dan berapa lama waktu yang diperlukan. Dari sana, pilih harga yang akan menghasilkan laba yang nyaman bagi Anda.

Jika Anda menjual layanan, maka Guillebeau mengatakan untuk mempertimbangkan berapa lama waktu yang diperlukan bagi Anda untuk menyelesaikan layanan dan menentukan penghasilan per jam minimum yang dapat Anda terima.

Selanjutnya, putuskan sistem pembayaran yang terbaik untuk bisnis Anda. Tuliskan proses bagaimana pelanggan dapat menemukan produk atau layanan Anda dan cara membelinya. Pastikan untuk mempertimbangkan setiap masalah yang mungkin dihadapi pelanggan ketika mencoba berbisnis dengan Anda dan memikirkan cara-cara yang mungkin untuk menyelesaikannya.

“Dengan memikirkan berbagai skenario masalah, Anda dapat mengidentifikasi solusi yang jelas yang akan menghemat waktu dan kerumitan nantinya,” tulis Guillebeau.

4. Luncurkan bisnis Anda

Di minggu keempat, Anda bisa mulai mempromosikan bisnis Anda setiap kesempatan yang Anda dapatkan. Hubungi teman dan pendukung di jaringan Anda dan minta mereka membantu menyebarkan berita tentang layanan atau produk baru Anda.

Jika Anda tidak punya waktu atau sumber daya untuk meluncurkan situs web resmi, Guillebeau menyarankan untuk menggunakan media sosial, seperti Facebook. Promosi ini harus terus dilakukan di fase awal bisnis Anda berjalan untuk menambah pelanggan.

Rupiah Menguat Tipis di Awal Pekan

Gerak mata uang rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan awal pekan ini terpantau menguat tipis. Namun demikian gerak rupiah perlahan menampakkan pelemahannya.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 26 Maret 2018, rupiah dibuka menguat ke level Rp13.780 per USD dibandingkan sebelumnya yang berada di Rp13.782 per USD.

Tak beberapa lama kemudian gerak rupiah sedikit menguat ke level Rp13.768 per USD. Rupiah terpantau menguat hingga 14 poin atau setara 0,10 persen.

Sementara itu rentang gerak rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini berada di level Rp13.763-Rp13.783 per USD dengan year to date (ytd) return sebesar 1,67 persen.

Sedangkan mencatat data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan menguat ke level Rp13.774 per USD. Rupiah menguat hingga empat poin atau setara 0,03 persen.

Analis Senior PT Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada sebelumnya memprediksikan rupiah masih akan cenderung tertekan sepanjang hari ini. Apalagi masih ada sentimen yang datang dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

“Perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat berimbas pada ekonomi Indonesia. Maka rupiah yang melemah hingga perdagangan Jumat, 23 Maret 2018 membuka peluang untuk kembali terjadinya pelemahan,” kata Reza, dalam keterangan risetnya, Senin, 26 Maret 2018.

Namun demikian, Reza berharap pelemahan dapat lebih terbatas untuk menjaga rupiah tidak melemah lebih dalam.

Oleh karena itu, dia mengimbau investor tetap mencermati dan mewaspadai terhadap sentimen yang membuat rupiah tertahan kenaikannya. Nilai rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran support Rp13.802 per USD, sedangkan posisi resisten akan berada di Rp13.769 per USD.

 

Sumber: metrotvnews.com

CT Ungkap Tantangan di Era Ekonomi Serba Teknologi

Pendiri CT Corp Chairul Tanjung mengatakan saat ini Indonesia tak bisa mengelak dari revolusi industri 4.0. Sebab, semakin majunya teknologi, maka akan mengubah cara perusahaan dalam melakukan bisnisnya.

Adapun, revolusi industri 4.0 adalah proses penciptaan nilai tambah barang dan jasa yang berbasiskan pertukaran informasi dan data. Ciri khas era Industri 4.0, antara lain pemanfaatan rekayasa kecerdasan (artificial intelligence), internet of things, big data, sampai robot.

Agar ekonomi Indonesia berdaya saing, maka mau tak mau pelaku usaha saat ini harus menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0. Bahkan, saat ini dampaknya sudah mulai terasa di Indonesia.

Ia mencontohkan, saat ini penyedia aplikasi teknologi transportasi, seperti Go-Jek dan Uber menggerus pangsa pasar transportasi konvensional. Tak hanya itu, runtuhnya sektor ritel pun juga disinyalir karena timbulnya moda berbelanja secara daring (online).

“Dan dengan berbasiskan data dan informasi, sebetulnya dunia usaha mendapatkan manfaat. Yakni, bisnisnya bisa lebih inklusif, tercipta efisiensi di proses bisnis, dan memudahkan dunia usaha untuk berinovasi,” jelas CT.

Hanya saja, menurutnya, revolusi industri 4,0 menimbulkan mudharat tersendiri. Salah satunya, pengurangan tenaga kerja demi efisiensi biaya oeprasional perusahaan.

Ia mengambil contoh Upah Minimum di Kabupaten Karawang yang kini mencapai Rp4 juta per bulan. Berdasarkan hitungan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015, maka kenaikan upah per tahun dihitung dari inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Mengambil asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi saat ini, maka bisa-bisa upah minimum menembus Rp15 juta dalam 10 tahun lagi. Sehingga, daripada mempekerjakan karyawan, maka perusahaan akan mengganti sistem produksinya dengan otomatisasi. Ini dianggapnya sudah menjadi konsekuensi logis dari revolusi industry 4.0.

“Nantinya, tidak ada lagi buruh di Karawang, semuanya jadi otomatisasi,” imbuh mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian ini.

Tak hanya masalah ketenagakerjaan, revolusi industri 4.0 juga membuat persaingan bisnis semakin ketat, mengingat pendiriannya cukup mudah. Hanya saja, persaingannya menjadi tidak sehat lantaran satu perusahaan bisa menguasai seluruh pangsa pasar.

Dalam hal ini, ia memberi contoh Amazon yang pada 2016 lalu mengambil pangsa 38 persen dari seluruh total transaksi e-commerce di Amerika Serikat (AS).

Market leader (pemimpin pasar) tidak akan memberi space (ruang) bagi kompetitornya. Misalnya, Amazon yang saat ini nomor satu di AS membuat tidak ada tempat bagi yang lain. Istilahnya the winner takes all,” terang dia.

Di samping dua masalah itu, ada satu hal lagi yang seharusnya menjadi perhatian Indonesia, yakni menjamurnya industri berbasis teknologi informasi luar negeri yang memanfaatkan pasar dalam negeri. “Foreign ownership ini issue, tidak boleh ada yang mengakunya karya anak bangsa, tapi bukan perusahaan Indonesia,” pungkasnya.

 

Sumber: cnnindonesia.com

Scroll to top